Monday, August 17, 2015

tirakatan, itu disebelum 17

Tirakatan, sebuah acara dalam budaya beberapa kampung di jawa yang biasanya dilakukan pada malam menuju 17 agustus. Asal kata tirakatan yaitu tirakat-an (tambahan -an menjadikannya kata kerja) berasal dari bahasa arab taraqa yatruqu dan tariqa yatruqu yang sebenarnya banyak artinya tergantung konteks penggunaan. Akan tetapi kalau kata bapak saya (yang lebih banyak membaca buku daripada saya) arti umum dari tariqat adalah jalan yang menghubungkan antara syariat dan hakikat. Jadi sepenangkap saya selaku anak komunikasi-visual, tariqat itu sebuah kata kerja dimana kita mendekat pada pada tuhan dengan syariat sehingga mendekati hakikat/ dasar. ya seperti itulah.
Adalah tirakatan yang dilakukan di kampung-kampung biasanya berupa doa bersama, makan besar bersama, nyanyi lagu nasional, bagi-bagi bingkisan, pengumuman pemenang lomba 17-an, dan lain-lain pada umumnya. Di kampung saya sendiri pun seperti itu.

Di kampung kami kebetulan malam 17 tahun ini masak bubur ditambah lauk mie bihun dan sayur tempe atau secara singkat dinamakan jenang lemu oleh penduduk kampung kami. Proses memasak itu pun dilakukan secara gotong royong dari siang hari. Dan malamnya disajikan hangat kepada seluruh penduduk kampung.

Malam tirakatan biasanya dilakukan dengan khitmat, hangat, tetapi tetap menyenangkan karena kami juga menghormati perjuangan para pejuang yang kala itu (16 agustus malam tahun 1945) masih repot-repot meyakinkan pak Soekarno dan Muh Hatta agar segera memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Tirakatan juga merupakan ajang untuk bersyukur karena Indonesia sudah tidak di jajah kumpeni, walaupun kadang masyarakatnya belum merasa merdeka (secara pribadi, iya kan?).
Setelah rangkaian acara formalitas tirakatan biasanya golongan bapak-bapak masih melanjutkan acara samapi larut malam dengan bermain kartu, atau bersenda-gurau (eh, bapak-bapak bukan bersenda gurau, mereka memikirkan gimana nasib bangsa ini ke depannya) sampai larut malam. Nah, ini lah yang menjadikan bapak-bapak itu merdeka sesaat. hehe.


Jadi untuk menyelesaikan tulisan tentang tirakatan yang –maafkan sayaberantakan. Sejatinya kita harus mengembalikan nilai dari tirakatan itu sendiri, yaitu kita harus mendekat kepada syariat sehingga tidak meninggalkan hakikat. Hakikat sebagai masyarakat yang berbudaya luhur, mempercayai adanya ketuhanan yang esa, hakikat menjadi manusia yang adil dan beradab, sehingga bisa berujung persatuan indonesia serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Yo intinya itu pancasila.

Dirgahayu!